
(Oleh: Rochanah, M. Pd. I, Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kudus)
Ratu Kalinyamat adalah seorang putri Sultan Trenggono yang berasal dari Kesultanan Demak. Ia adalah sosok Perempuan penting dalam sejarah Islam di Indonesia yang terkenal sebagai pemimpin yang bijak, berani, dan memiliki jiwa patriotisme anti-penjajahan.
Ratu Kalinyamat semasa hidupnya memiliki andil besar di kota Jepara, Jawa Tengah, Indonesia. Salah satu warisan Ratu Kalinyamat yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah Tradisi Baratan, yakni upacara adat yang diadakan setiap tahun pada malam ke-15 bulan Sya’ban, 15 hari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan yang bertempat di Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah. Tradisi ini merupakan bagian dari akulturasi budaya Islam dengan budaya local untuk menciptakan sebuah upacara adat yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri.
Terdapat Sejarah yang kental dalam Tradisi Baratan Ratu Kalinyamat, yakni kematian Sultan Hadlirin sebagai sosok suami Ratu Kalinyamat yang dibunuh oleh Arya Penangsang pada tahun 1549 M. Setelah peristiwa tersebut, Ratu Kalinyamat memerintahkan untuk mengadakan arak-arakan obor dan lampion dari Masjid Al-Makmur di Desa Kriyan ke Desa Banyuputih sebagai tanda berduka cita atas kematian suaminya.
Tradisi Baratan Ratu Kalinyamat dimulai pada malam ke-15 bulan Sya’ban. Rangkaian upacara diawali dengan berkumpulnya masyarakat Kalinyamatan di Masjid Al-Makmur di Desa Kriyan ke Desa Banyuputih untuk mendirikan shalat Maghrib dan Isya berjamaah. Setelah menjalankan shalat, masyarakat kemudian melakukan arak-arakan dengan membawa obor dan lampion ke Desa Banyuputih dengan diiringi pembawaan sesaji dan makanan tradisional. Dalam konteks Pendidikan islam, tradisi baratan memiliki hubungan yang kuat dengan nilai nilai Pendidikan islam.
Nilai-nilai pendidikan Islam yang tersirat dalam Tradisi Baratan diantaranya adalah nilai ketaatan, kesabaran, dan kepemimpinan. Ratu Kalinyamat sebagai seorang pemimpin yang bersikap bijak dan terkenal akan keberaniannya, menjadi uswah hasanah bagi masyarakatnya dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Nilai-nilai relevan dengan pendidikan Islam saat ini untuk selalu bersikap taat kepada Allah SWT, sabar dalam menghadapi cobaan, dan bersikap adil dan bijak manakala menjadi seorang pemimpin.
Dapat disimpulkan bahwa Tradisi Baratan Ratu Kalinyamat merupakan sebuah contoh dari akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal, di mana nilai-nilai Islam digabungkan dengan tradisi lokal untuk menciptakan sebuah upacara adat yang unik dan khas. Tradisi ini mengandung nilai-nilai Islam yang kuat, antara lain ketaatan, kesabaran, kepemimpinan, dan kebersamaan. Oleh karena itu, Tradisi Baratan Ratu Kalinyamat dapat dijadikan sebagai salah satu contoh dari bagaimana nilai-nilai Islam dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pendidikan Islam, Tradisi Baratan dapat dijadikan sebagai teladan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Islam harus mampu membentuk setiap individu agar memiliki karakter dan kepribadian yang kuat sehingga terlahir pemimpin yang adil dan bijak.
